RUMAH (bagian 1)
Oleh : Ferdian
Malam itu membuatku terus – menerus bimbang.Bimbang antara menutup kelambu ungu yang setengah terbuka dari kemarin..atau mengoyaknya.., hingga aku dapat melihat jelas wajah kusut perempuan yang dari kemarin berdiri di luar dan memandangi rumahku.Ah sebenarnya wajahnya belum terlihat utuh, kecuali sepasang mata yang masih menyimpan misteri itu.
Aku yakin bahwa dia adalah perempuan,.lembut suaranya ketika meminta tinggal dirumahku kemarin malam meyakinkan aku bahwa ia benar – benar seorang perempuan.
“Aku ingin tinggal dirumahmu”kata perempuan itu.
“Siapa namamu?”aku membalas pertanyaannya.
Dia menjawab dengan bahasa kesunyian…
“Siapa namamu, hai perempuan?” aku mengulangi pertanyaanku.
“ Aku ingin tinggal dirumahmu” katanya lagi.
Aneh,dia selalu bungkam,bahkan untuk sekedar menyebut nama,.Atau barangkali dia hanya bisa mengucapkan satu kalimat itu?“Aku ingin tinggal dirumahmu”.Sungguh,ini adalah keanehan teraneh yang pernah singgah didalam hidupku.
Tak lama kemudian aku menuju kamarku mengambil selimut dan tongkat yang diberikan oleh peri hutan dua pekan yang lalu.
”Pakailah selimut ini diluar amat dingin, maaf aku tak mengijinkan kamu tinggal, aku belum mengenalmu dengan baik,kuijinkan engkau bertamu, tapi maaf, sekali lagi aku keberatan jika kau tinggal dirumahku.Bawa juga tongkat ini, ini dapat kau gunakan untuk memetik bintang untuk memuaskan rasa laparmu”.kataku.
Perempuan itu hanya tersenyum dan mengulangi kata – katanya “ Aku hanya ingin tinggal dirumahmu”.
Sejenak aku diam, menatap kedua matanya..,mencari tahu maksud kedatangannya yang terlalu tiba – tiba itu.
“Aku lelah ingin tidur,pergilah” kataku
“Terima kasih, tapi aku tidak memerlukan selimut dan tongkat ini “ katanya sembari berlalu meninggalkan rumahku.
Malam itu aku susah tidur, merasa bersalah dan khawatir akan nasib perempuan malang itu. Bukannya apa, hanya saja aku tidak mau lagi terlalu ceroboh mengijinkan masuk setiap orang yang mengetuk pintu rumahku.
Dahulu pernah juga seorang perempuan mengatakan ingin tinggal didalam rumahku . aku ingat sekali malam itu , angin tak henti – hentinya menggoyang ujung dahan akasia didepan rumah,yang umurnya sama dengan umurku dan lagi deras air hujan memandikan rumput dan bunga- bunga yang mulai mengering karena disengat sinar matahari. Malamnya, tepat ketika aku sedang melihat rembulan dari balik jendela, perempuan itu datang menghampiriku dan berkata” Aku telah menempuh perjalanan yang cukup panjang untuk sampai di tempat ini, telah kulewati pula berbagai rasa sakit, haru dan perih hanya untuk menjaga hati dan jiwaku ini tetap utuh, seutuh keinginanku untuk tinggal didalam rumahmu.”
“Engkau sungguh aneh, berceloteh pelbagai hal yang tak kumengerti, lalu benda apakah yang kau pikul itu wahai perempuan ?“ tanyaku.
“Ini adalah benda bernama hati yang ingin kuberikan padamu,letakkan ini didalam rumahmu maka terangnya akan mengalahkan puluhan cahaya lentera yang kaupasang diseluruh ruanganmu.Jika benda ini kau letakkan di sisi hatimu, maka ia akan memancarkan spektrum cahaya yang warnanya lebih indah dari biang lala” kata perempuan itu.
“ Sungguh? Mengapa aku harus percaya pada setiap kata – katamu?tanyaku penuh curiga
Ia tersenyum dan masuk kedalam rumahku.” Dimana kauletakkan hatimu?” Tanya perempuan itu.
“ Di ruang tengah, tepat diatas meja.Aku sengaja meletakkannya disana karena benda itu mengeluarkan cahaya paling terang, seperti katamu melebihi puluhan cahaya lentera yang kupasang.Ia membuat seluruh ruangan ini menjadi lebih terang”. Jawabku datar.
Kemudian ia membungkuk dan meletakkan hati yang dia bawa di samping hatiku.
Sejenak kemudian cahaya yang sangat menyilaukan memancar dari kedua hati kami.Suatu cahaya aneh, menjadi begitu aneh karena komposisi warna yang dipancarkannya belum pernah aku lihat sebelumnya. Sebuah komposisi yang menyiratkan harmoni baru sepertinya perpaduan yang selaras antara kelembutan,kepercayaan dan ketegasan.
“Dan sekarang engkau telah melihatnya sendiri,membaui dan merasakan sendiri,tidak sia –sia aku melewati perjalanan ini”kata –kata perempuan itu memungutku kembali dari lamunan panjang.Keletihan akan pikiran tentang perempuan tadi mendorongku mencumbu lelap malam hari,aku tertidur….
bersambung…